Perang Dayak Dan Madura
Perang Dayak dan Madura dimulai pada tahun 1966, ketika sekelompok warga Madura menyerang sebuah desa Dayak di Kecamatan Sambas, Kabupaten Pontianak. Insiden ini memicu reaksi keras dari masyarakat Dayak, yang kemudian melakukan serangan balik terhadap warga Madura.
The conflict was not an isolated event but the culmination of long-standing tensions dating back to the 1960s. perang dayak dan madura
Faktal paling krusial adalah hilangnya kepercayaan terhadap aparat penegak hukum. Ketika terjadi kasus-kasus kecil (perkelahian, pencurian, atau pembunuhan) yang melibatkan warga Dayak dan Madura, masyarakat Dayak sering merasa hukum berpi Perang Dayak dan Madura dimulai pada tahun 1966,
Minor skirmishes occurred for years, but the situation reached a breaking point in February 2001 in the town of Sampit. While the exact spark is debated—ranging from a dispute over a house fire to an alleged attack on a Dayak family—the result was an explosion of ethnic cleansing. The violence was not a series of random riots but a systematic campaign. The Dayak utilized traditional symbols, such as the "Red Bowl" (Mangkok Merah), to signal a call to arms and mobilize warriors from across the region. The violence was not a series of random
Diperkirakan lebih dari 500 orang meninggal dunia akibat konflik ini.
Emosi memuncak. Dua hari setelah kematian Sandong, sekitar 300 warga Dayak mendatangi lokasi kejadian untuk mencari pelaku. Karena tidak menemukan target, mereka melampiaskan kemarahan dengan merusak sembilan rumah, dua mobil, lima motor, dan dua tempat karaoke—semuanya milik warga Madura. Insiden ini memicu gelombang pengungsian 1.335 orang Madura.
